Mutiara Kusumawati


Wanita-Wanita Militan

Ditulis dalam Siroh Mujahidah oleh mutiarakusumawati pada Maret 8, 2008

Ummu Sulaim ra.

Ibnu Ishaq mengatakan Abdulloh bin Abu Bakr berkata kepadanya bahwa Rosululloh SAW menoleh, kemudian melihat Ummu Sulaim binti Milhan yang ketika itu ikut berperang bersama suaminya, Abu Tholhah.

Ummu Sulaim mengikat pinggangnya dengan kain burdahnya, yang ia sedang mengandung Abdulloh bin Abu Tholhah, dan menaiki onta milik Abu Tholhah. Ia khawatir terlempar dari ontanya, untuk itu, ia mendekatkan kepala unta kepadanya dan masukkan tangannya ke gelang di sisi hidung onta. Rosululloh SAW bersabda kepada Ummu Sulaim, “Hai, Ummu Sulaim.” Ummu Sulaim berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu wahai Rosululloh! Aku akan membunuh mereka yang melarikan diri darimu sebagaimana engkau membunuh orang-orang yang memerangimu, karena mereka layak mendapatkannya.”

Rosululloh SAW bersabda, “Bukanlah Alloh sudah cukup, wahai Ummu Sulaim?”

Ketika itu, Ummu Sulaim hanya membawa pisau. Abu Tholhah berkata kepada Ummu Sulaim. “Kenapa engkau membawa pisau seperti ini, hai Ummu Sulaim?” Ummu Sulaim menjawab,

“Pisau ini sengaja aku bawa. Jika salah seorang kaum musyrikin mendekat kepadaku, aku akan menikamnya dengan pisau ini.” Abu Tholhah berkata, “Wahai Rosululloh, tidakkah engkau dengar apa yang dikatakan Ummu Sulaim Ar Rumaisha?”

Tidakkah engkau mendengar wahai para muslimat!

Dinukil dari kitab Siroh Ibnu Hisyam hal. 416.

Shofiyyah binti Abdul Mutholib

Ibnu Ishaq berkata, “Yahya bin Abbad bin Abdulloh bin Az Zubair berkata kepadaku dari ayahnya yaitu Abbad yang berkata bahwa Shofiyyah binti Abdul Muthollib ra berada di benteng tinggi milik Hasan bin Tsabit. Shofiyyah binti Abdul Mutholib berkata, ‘Hassan bin Tsabit berada di benteng tersebut bersama para wanita dan anak-anak. Tiba-tiba salah seorang Yahudi berjalan melewati kami mengelilingi benteng. Bani Quroidhoh telah mengumumkan perang dan membatalkan perjanjian dengan Rosululloh SAW. Tidak ada seorangpun yang bisa melindungi kami dari mereka, karena Rosululloh SAW dan kaum muslimin sedang menghadapi musuh hingga tidak bisa pergi ke tempat kami jika seseorang datang menyerang kami.

Aku berkata, “Hai Hassan, orang Yahudi ini seperti engkau lihat mengelilingi benteng. Demi Alloh, aku khawatir ia menyebarkan aurat kita kepada orang-orang Yahudi di belakang kita. Rosululloh SAW dan sahabat-sahabatnya sibuk hingga tidak bisa mengurusi kita, oleh Karena itu, turunlah engkau kepadanya dan bunuhlah dia!” Hassan bin Tsabit berkata, “Semoga Alloh mengampuni dosa-dosamu, hai anak Abdul Muthollib, demi Alloh, engkau tahu bahwa aku tidak ahli untuk tugas tersebut.”

Ketika Hassan bin Tsabit berkata seperti itu dan aku tidak melihat sesuatu padanya, aku mengencangkan kainku, kemudian mengambil tongkat besi. Setelah itu, aku turun dari benteng menuju orang yahudi tersebut dan memukulnya dengan tongkat besiku hingga tewas. Setelah membunuhnya aku naik ke atas benteng dan berkata kepada Hassan bin Tsabit, “Hai Hassan, turunlah engkau ke jenazah orang Yahudi tersebut, kemudian ambillah apa yang dikenakannya, karena tidak ada yang menghalangiku untuk mengambil apa yang ia kenakannya, melainkan ia orang laki-laki.” Hassan bin Tsabit berkata, “Aku tidak butuh untuk mengabil barang-barangnya, hai putri Abdul Mutholib.”

Kesabaran Shofiyyah

Ibnu Ishaq berkata, “Shofiyyah binti Abdul Mutholib – seperti dikatakan kepadaku – datang untuk melihat Hamzah bin Abdul Mutholib, saudara sekandungnya. Rosululloh SAW bersabda kepada anak Shofiyyah, Az Zubair bin Awwam, “Temui ibumu dan suruh dia pulang agar tidak melihat apa yang terjadi pada saudaranya.” Az Zubair bin Al Awwam berkata kepada ibunya, Shofiyyah, “Ibu, sesungguhnya Rosululloh SAW menyuruhmu pulang.” Shofiyyah berkata, “Kenapa Rosululloh SAW menyuruhku pulang, padahal aku mendapat informasi bahwa saudaraku dicincang-cincang dan itu terjadi di jalan Alloh?

Tidak ada yang melegakanku selain itu. Aku pasti mengharap pahala Alloh dan pasti bersabar insyaAlloh.” Az Zubair bin Al Awwam menghadap Rosululloh SAW dan menceritakan hasil pertemuan dengan ibunya, kemudian beliau bersabda, “Biarkan dia!” Shofiyyah pun datang ke jenasah saudaranya, Hamzah bin Abdul Mutholib, kemudian melihat, menyolatinya, istirja’ (mengucapkan inna lillahi wa inna ilahi rojiun), dan memintakan ampun untuknya. Setelah itu Rosululloh SAW memerintahkan pemakaman jenazah Hamzah bin Abdul Mutholib.” (Siroh ibnu Hisyam II/62)

Seorang wanita dari Bani Ghiffar.

Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Sulaiman bin Suhaim berkata kepadanya dari Umaiyyah binti Abu Ash Shalt dari seorang wanita dari Bani Ghifar yang berkata, “Aku datang kepada Rosululloh bersama rombongan wanita dari Bani Ghifar dan berkata, “Wahai Rosululloh, kami ingin keluar bersamamu ke tempat yang engkau tuju – ketika beliau sedang berangkat ke Khoibar -, agar kami bisa mengobati orang-orang yang terluka dan membantu kaum muslimin semampu kami.” Rosululloh SAW bersabda,”Dengan berkah Alloh, silahkan.” Kami pun berangkat bersama beliau.

Ketika itu, aku gadis yang baru menginjak usia dewasa. Rosululloh SAW menempatkanku di kantong pelana kudanya. Demi Alloh beliau turun dari unta hingga waktu subuh dan menghentikan untanya. Aku pun turun dari kantong pelana unta beliau ternyata di dalamnya terdapat darah. Itulah darah haidku yang pertama kali. Aku melompat ke arah unta dan merasa malu.

Ketika beliau melihatku dan melihat darah, beliau bersabda, “apa yang terjadi denganmu, barangkali engkau baru haid?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Perbaikilah dirimu, ambillah tempat air, masukkan garam ke dalamnya, besihkan kantong pelana unta yang terkena darah dengan air tersebut, kemudian kembalilah ke kendaraanmu.” Ketika Rosululloh SAW berhasil menaklukkan Khoibar, beliau memberi kami sedikit dari harta fay’I, mengambil kalung yang kalian lihat dileherku ini, memberikannya kepadaku, dan memasangkannya ke leherku. Demi Alloh kalung ini tidak berpisah denganku selama-lamanya.” (Siroh Ibnu Hisyam II/311).

Seorang wanita dari Bani Dinar.

Ibnu Ishaq berkata, “Abdul Wahid bin Abu Aun berkata kepadaku dari Ismail bin Muhammad bin Sa’ad bin Abu Waqqosh yang berkata, “Rosululloh SAW berjalan melewati seorang wanita Bani Dinar yang kehilangan suami, saudara dan ayahnya di perang Uhud. Ketika kesyahidan ketiganya disampaikan kepadanya, ia berkata, “Bagaimana dengan kabar Rosululloh SAW?” Para sahabat berkata. “Beliau baik-baik saja, hai ibu si Fulan. Beliau alhamdulillah seperti yang engkau inginkan.” Wanita dari Bani Dinar tersebut berkata, “Perlihatkan Rosululloh SAW agar aku bisa melihat beliau!” wanita tersebut pun dibawa kepada Rosululloh SAW. Sesudah melihatnya, ia berkata, “Semua musibah sesudahmu itu kecil tidak ada artinya.”.
(Siroh Ibnu Hisyam II/65).

Seorang wanita kalangan bani Abdud Daar ketika sampai kepadanya kabar kesyahidan suaminya dan saudaranya serta bapaknya, lalu dia berkata: “Apa yang terjadi dengan Rosululloh SAW?” Mereka berkata: “Dia baik-baik saja”. Wanita tersebut berkata: “Setiap musibah selain pada dirimu wahai Rosululloh SAW adalah kecil” artinya “remeh dan sepele”.

Rubai’ binti Muawwidz

Telah disebutkan di dalam hadits shohih dari Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Al Bukhori dari Rubai’ binti Muawwidz ra dia berkata: “Kami berperang bersama Nabi SAW, kami memberi minum para prajurit dan membantu mereka, mengembalikan yang terluka dan yang terbunuh ke Madinah”.

Asma’ binti Abu Bakar

Ibnu Ishaq berkata, “Tak ketinggalan, Asma binti Abu Bakr rodliyallohu ‘anha. juga mengirim makanan yang dibutuhkan oleh keduanya di waktu sore. Asma berkata, `Ketika Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar bersama Abu Bakar, kami didatangi oleh beberapa orang Quraisy, di antara mereka ada Abu Jahal bin Hisyam, mereka berdiri di depan pintu rumah Abu Bakar, maka aku keluar menemui mereka. Mereka berkata, “Di mana ayahmu, hai putri Abu Bakar?” aku katakan, “Demi Alloh saya tidak tahu di mana ayahku?” Asma melanjutkan, `Lalu Abu Jahal mengangkat tangannya — padahal dia adalah orang yang jahat lagi bengis — lantas ia tampar pipiku hingga anting-antingku terlempar, baru kemudian mereka pergi.

Ibnu Ishaq berkata, telah menceritakan kepadaku Yahya bin Abbad bin `Abdulloh bin Zubair bahwa ayahnya bercerita tentang neneknya, Asma, ia berkata: “Tatkala Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam keluar bersama Abu Bakar, Abu Bakar membawa seluruh hartanya yang berjumlah lima ribu atau enam ribu dirham, ia pergi dengan membawa semua harta tadi.

Asma melanjutkan, “Kemudian kakekku, Abu Quhafah masuk menemui kami, saat itu beliau sudah buta, ia mengatakan, `Demi Alloh, sungguh aku melihat Abu Bakar telah membuat kalian sedih dengan harta dan diri yang ia bawa.” Aku menimpali, “Sama sekali tidak wahai Abah! Beliau justeru telah meninggalkan kebaikan yang banyak bagi kita.” Asma berkata lagi,

“Kemudian aku mengambil banyak batu lalu kutaruh di dalam sebuah kantong di dalam rumah yang biasa ayahku menaruh hartanya, kemudian aku letakkan kain di atasnya dan kutarik tangan kakekku, aku katakan, “Hai abah, letakkan tanganmu di atas harta ini.”

Asma melanjutkan, “Maka iapun meletakkan tangannya di atasnya lalu berkata, “Tidak apa-apa, kalau ia meninggalkan harta seperti ini buat kalian, berarti ia telah berbuat baik dan ini cukup bagi kalian.” Padahal, demi Alloh, ayahku tidak meninggalkan apa-apa buat kami, tapi saya hanya ingin menenangkan orang tua ini.

‘Aisyah berkata: Dan kami mempersiapkan keduanya dengan persiapan yang paling cepat, dan kami letakkan rangsum makanan untuk keduanya di dalam sebuah kantong kulit. Lalu Asma’ binti Abi Bakar memotong ikat pinggangnya kemudian ia ikat kantong kulit tersebut dengannya. Lalu Asma’ bin ti Abi Bakar memotong ikat penggangnya lagi untuk ia jadikan tali pada mulut geriba (tempat air / susu yang terbuat dari kulit). Oleh karena itulah Asma’ binti Abi Bakar dijuluki dengan Dzatun Nithoqoin (yang memiliki dua ikat pinggang).

Sumber : Alqoidun.net

Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshariyah

Ditulis dalam Siroh Mujahidah oleh mutiarakusumawati pada Maret 8, 2008

Sesungguhnya Nusaibah Binti Ka’ab Al Anshariyah atau lebih dikenal dengan Ummu Umarah adalah merupakan salah satu contoh yang mempunyai keberanian yang kukuh pada setiap saat. Ia merupakan pahlawan wanita yang tidak pernah alpa dalam melaksanakan kewajipan .Semua yang dilakukan itu untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan kenikmatan di akhirat.

Dia adalah seorang sahabat wanita yang agung. Dia termasuk salah seorang wanita yang bergabung dengan 70 puluh orang lelaki Ansar yang ingin berbaiat kepada Rasulullah SAW. Dalam baiat Aqabah yang kedua itu dia bersama dengan suaminya Zaid bin Ahsim dan dua orang puteranya Hubaib yang dibunuh oleh Musailamah setelah itu, dan Abdullah perawi hadith wuduk. Sedangkan wanita yang seorang lagi adalah saudaranya.

Ummu Umarah merupakan seorang wanita yang berani, pandai menjaga harga diri, jujur dan rajin. Perkara ini dijelaskan oleh Rasulullah sendiri ketika dia membuat baiat. Baginda bersabda “Janganlah mengalirkan darah dengan sia-sia.”

PAHLAWAN WANITA ANSAR

Ibnu Saad memberikan gambaran yang indah mengenai Ummu Umarah didalam kitabnya Thabaqat seperti berikut:

“Ummu Umarah telah masuk Islam, ia telah menghadiri malam perjanjian Aqabah dan berbaiat kepada Rasulullah SAW. Ia ikut dalam perang Uhud, Perjanjian Hudaybiah, Umrah Qadha, Perang Hunayn, Perang Yamamah dan dia terpotong tangannya dan mendengar beberapa hadith Rasulullah SAW”.

Ummu Umarah menceritakan sendiri pengalamannya ketika Perang Uhud.Sebagaimana diungkap oleh Ibnu Sa’ad katanya:

“Pada permulaan siang, saya pergi ke Uhud dan saya melihat apa yang dilakukan orang. Pada waktu itu saya membawa tempat yang berisi air. Kemudian saya sampai kepada Rasulullah SAW yang berada di tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan, saya melindungi Rasulullah SAW, kemudian ikut serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah SAW dengan pedang, saya juga menggunakan panah sehingga akhirnya saya terluka”.

Ketika Said bin Ibnu Rabi menanyakan kepadanya tentang luka yang dilihat di belakangnya, bagaimana kisahnya sehingga terjadi yang demikian. Ummu Umarah menjawab, “Ibnu Qumaiah datang ingin menyerang baginda, ketika para sahabat sudah meninggal Rasulullah SAW. Lalu ia berkata,
“Tunjukkan aku di mana Muhammad, aku tidak akan selamat selagi dia masih hidup”. Lalu Mushab bin Umair dengan beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibnu Qumaiah memukulku”.

Imam Az Zahabi berkata:

“Dia adalah wanita yang utama dan pejuang dari kalangan Ansar, Khazraj, Najjar, Mazin dan sebagai orang Madinah. Saudaranya Abdullah bin Kaab termasuk kelompok para sahabat yang ikut dalam perang Badar . Begitu juga saudaranya Abdurrahman termasuk orang yang suka menangis”.

Al Waqidi berkata:

“Ummu Umarah ikut Perang Uhud bersama suaminya dan dua orang anaknya dari suaminya yang pertama. Ia keluar untuk memberi minum dengan membawa qirbah atau tempat air yan buruk . Ia juga ikut berperang dan mendapat cubaan yang baik sehingga mendapat banyak dua belas luka ditubuhnya”

Imam Az Zahabi meriwayatkan darinya bahwa dia berkata:

“Saya mendengar Rasulullah SAW berkata: ” Sesungguhnya kedudukan Nusaibah pada hari ini adalh lebih baik dari kedudukan fulan dan fulan” .

Ibnu Saad juga meriwayatkan ungkapan Ummu Umarah sendiri sebagai berikut:
“Saya melihat para sahabat sudah jauh jaraknya dari Rasulullah SAW, hingga tinggal kelompik kecil yang tidak sampai 10 orang . Saya beserta kedua anak saya serta suami saya berada di hadapan baginda untuk melindunginya. Baginda melihat saya tidak mempunyai perisai, baginda melihat pula seorang lelaki yang mengundur diri samnil membawa perisai . Kemudian nabi bersabda kepadanya, “Berikanlah perisaimu kepada orang yang sedang berperang”. Ia pun melemparkannya, kemudian saya ambil dan gunakannya untuk melindungi Rasulullah SAW”.

“Pasukan berkuda itu melakukan berbagai gerakan, seandainya mereka mengganggu baginda nescaya akan kami lawan mereka. Kemudian datanglah seorang yang menunggangi kuda yang hendak memmukul saya. Maka saya gunakan perisai tetapi ia tidak jadi melakukannya dan akhirnya berpaling. Ketika itu saya pukul kaki kudanya dan punggungnya. Lalu Rasulullah SAW memanggil,” Wahai putera Ummu Umarah, bantulah ibumu, bantulah ibumu”. “Kemudian anak saya datang membantu saya sehingga saya dapat membunuhnya.”

Imam AzZahabi meriwayatkan kisah ini melalui ungkapan anak Ummu Umarah yang bernama Abdullah bin Zaid. Katanya,

“Pada suatu hari saya terluka dan darahnya tidak mahu berhenti.” . Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Balutlah lukamu,”. Kemudian ibuku datang dengan membawa pembalut dari ikat pinggangnya. Kemudian dibalutnya lukaku sedangkan baginda berdiri lalu baginda bersabda
” Bangunlah dan perangi kaum itu .”Kemudian baginda bertanya, “Siapakah yang mampu berbuat sepertimu wahai Ummu Umarah ?” Kemudian datanglah orang yang memukul anaknya tadi. Rasulullah SAW pun bersabda,

“Inilah orang yang memukul anakmu”,

“Kemudian Ummu Umarah mendekatinya dan memukul betisnya hingga tumbang . Maka Ummu Umarah melihat Rasulullah SAW tersenyum hingga nampak gigi taring baginda sambil banginda bersabda, “Engkau telah menghukumnya wahai Ummu Umarah”,” Kemudian kami pukul lagi dengan pedang sehingga musuh itu mati . Lalu baginda bersabda , “Segala puji kepunyaan ALLAH, yang telah memberi pertolongan kepadamu.”

DOA RASULULLLAH SAW UNTUK UMMU UMARAH DAN ANAKNYA

Imam Az Zahabi meriwayatkan dari Abdullah bin Zaid bin Ahsim ia berkata, “Saya mengikuti perang Uhud, maka ketika para sahabat meninggalkan Rasulullah SAW, saya dan ibu saya mendekati baginda untuk melindunginya, lalu baginda bertanya, “Mana Ummu Umarah?” Saya menjawab: ” Ya wahai Rasulullah ,” baginda bersabda :” Lemparkanlah”

Saya pun melemparkan sebuah batu kepada seorang lelaki yang sedang menunggang kuda di hadapan mereka, akhirnya batu itu mengenai mata kuda itu. Kemudian kuda tersebut bergoncang , sehingga penunggangnya terjatuh. Kemudian saya tindih orang itu dengan batu dan Rasulullah melihatnya sambil tersenyum.

Baginda juga melihat luka ibuku di belakangnya, baginda bersabda “Ibumu, ibumu balutlah lukanya, Ya Allah jadikan lah mereka sahabat saya di syurga”. Mendengar itu ibuku berkata : “Aku tidak hirau lagi apa yang menimpaku dari urusan dunia ini”.

Itulah Ummu Umarah yang mengibarkan panji-panji Islam . Membela Rasulullah SAW, ia terluka dalam perang Uhud sebanyak 12 tempat di tubuhnya dan kembali ke Madinah dengan luka2 perjuangan tersebut.

Abu Bakar ketika menjadi Khalifah pernah datang menemuinya untuk menanyakan sesuatu. Begitu juga Umar Al-Khattab pernah memperoleh beberapa helai pakaian yang di dalamnya ada yang baru . Maka pakaian yang baru itu dikirim pada Ummu Umarah. Begitulah kehidupan Ummu Umarah melalui hari-hari kehidupan denan penuh perjuangan tehadap Islam, kemudian sentiasa melakukan kewajipan samada masa perang baik waktu damai.

Ummu Umarah juga bersama Rasulullah SAW untuk menunaikan Baitur Ridhwan, satu janji setia untuk sanggup mati syahid di jalan ALLAH.

Setelah Rasulullah SAW wafat munculllah Musailamah Al Kazab yang mengaku menjadi nabi . Maka semua orang memeranginya.Hubaib putera Ummu Umarah diutus oleh baginda ketika baginda masih hidup, untuk menyampaikan surat pada Musailamah .Namun Hubaib ditawannya dan diseksa dengan seksa yang mengerikan, namun Hubaib tetap tabah dan sabar.

Musailamah bertanya kepada Hubaib, ” Apakah engkau mengakui bawaha Rasulullah itu adalah utusan ALLAH ?” Dia menjawab “Benar”.

Musailamah bertanya lagi, ” Apakah engkau mengetahui bahawa saya adalah utusan ALLAH ?”

Hubaib menjawab, “Saya tidak pernah mendengar yang demikian itu,”. Lalu Musailamah memotong-motong tubuh Hubaib sehingga ia meninggal dunia.

Ketika mengetahui bahawa anaknya Hubaib terbunuh, maka Ummu Umarah bernazar tidak akan mandi sehingga ia dapat membunuh Musailamah. Maka dia akan ikut serta anaknya Abdullah dalam perang Yamamah . Ia sangat berharap agar dapat membunuh Musailamah dengan tangannya sendiri . Namun takdir telah menentukan yang membunuh Musailamah bukan Ummu Umarah tetapi anaknya Abdullah yang menuntut bela diatas kematian saudaranya Hubaib .

Al Waqidi menceritkan peristiwa yang dialami oleh Ummu Umarah dalam peperangan ini dengan menyatakan, “Ketika sampai kepadanya berita kematian anaknya di tangan Musailamah al Kazzab, maka ia berjanji kepada ALLAH dan memohon kepadaNya agar ia juga mati di tangan Musailamah atau dia yang membunuh Musailamah”.

Maka dia pun mengkuti perang Yamamah bersama Khalid bin Walid , lalu Musailamah terbunuh dan tangan Ummu Umarah terpotong dalam peperangan tersebut.

Ummu Umarah berkata, “Tangan saya terpotong pada hari peperangan Yamamah, pdahal saya sangat berhajat untuk membunuh Musailamah . Tidak ada yang dapat melarangku sehingga aku dapat melihat anakku Abdullah bin Zaid mengusap pedangnya dengan pakaiannya , lalu aku berkata kepadanya: ” Engkaukah yang membunuhnya ?” Ia menjawab “Ya” . Kemudian aku bersujud kepada Allah kerana bersyukur.

Semoga Allah memberikan rahmat kepada Ummu Umarah dengan rahmat yang luas dan menyambutnya dengan keredhaanNya yang agung.

Sumber : Alqoidun.net

Mengenal Fathimah Najjar, Pelaku Bom Syahid Paling Tua

Ditulis dalam Siroh Mujahidah oleh mutiarakusumawati pada Maret 8, 2008

“Saya ini pelaku bom syahid.. saya ini pelaku bom syahid…” Seperti ini kalimat yang selalu keluar dari lisan Hajah Fathimah Najjar (57) setiap kali ada orang yang mengajaknya untuk diam di rumah dan tidak terlibat dalam aksi perlawanan terhadap penjajah Israel. Sejumlah orang, mengkhawatirkan kondisinya yang sudah tua, jika harus terlibat dalam aksi perlawanan.

Fathimah, adalah seorang ibu sekaligus nenek bagi 20 orang anak dan cucu. Dia memang pelaku bom syahid yang terjadi pekan lalu di antara unit tentara militer, di sisi Timur Jabaliya, Utara Ghaza.

Usai aksi syahid dilakukan, keluarganya membagi-bagikan kue dan permen kepada tetangganya, sebagai rasa syukur atas suksesnya aksi syahid yang dilakukan ibu sekaligus nenek mereka.

Ahmad, cucu paling kecil dari Hajah Fatimah mengatakan, “Nenek berpesan kepada saya, jika saya syahid mintalah kepada ayahmu uang dan belikan makanan dan permen untuk dibagi kepada teman-temanmu dan anak-anak kecil.”

Fatimah meledakkan diri bersama bom di tubuhnya pada hari Kamis (23/11) di tengah tentara patroli Israel hingga menyebabkan sejumlah tentara tewas dan lainnya terluka. Menurut juru bicara Batalyon Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, aksi peledakan itu terjadi di dekat rumah salah satu pimpinan wanita Hamas bernamah Jamelah Syanthe. Fathimah Najjar sebagai pelaku peledakan itu, menurut Al-Qassam, adalah perempuan paling tua di antara pelaku bom syahid perempuan di Palestina. Tapi menurut keluarganya, hal itu tidaklah aneh karena selama ini, Fathimah terlihat sangat intens terlibat dalam banyak aktifitas pembelaan Palestina meski usianya yang sudah tua.

Sanaa, salah satu keponakannya mengatakan bahwa Fathimah kerap menyebut, “Saya pelaku bom syahid.. saya pelaku bom syahid…” kepada kerabatnya saat berbincang-bincang. “Saya akan selalu ingat pesannya kepada saya, “Jika kamu ingin dipelihara Allah, maka hafalkanlah surat Al-Baqarah…”

Nahad, salah satu menantunya, mengatakan, Hajah Fathimah selalu memikirkan tentang mati syahid. “Ia selalu berpikir tentang mati syahid dan mengatakan bahwa para pemuda yang melakukan aksi syahid belum tentu lebih baik dari dirinya, dan juga mengatakan suatu hari ia akan melakukan aksi syahid.” Hajah Fathimah, tambah Nahad, “Kerap menangis bila mendengar berita tentara Israel membunuh anak-anak Palestina, lalu ia mengatakan akan menuntut balas kepada Israel.”

Sementara Fathiya, puterinya yang paling besar mengatakan, “Jika kami memintanya untuk tidak banyak terlibat dalam perlawanan karena banyak pemuda yang telah menutupi kewajiban perlawanan, ia mengatakan, “Lalu kenapa kita duduk di rumah? Apakah kita punya kekurangan bila kita ikut menyumbang nyawa untuk membela negara?”

Fathimah Najjar, adalah seorang penghafal Al-Quran dan orang yang mencintai Al-Quran. “Ibuku penghafal Al-Quran dan sangat memperhatikan masalah hafalan Al-Quran kepada cucu-cucunya. Ia biasa duduk bersama mereka untuk mendengarkan kandungan Al-Quran. Ia juga memberi pengajaran kepada kaum perempuan yang belum bisa membaca Al-Quran dan membimbing hafalan Al-Quran,” ujar Fathiya.

Aksi bom syahid yang dilakukan Fathima, bukan pertaruhan nyawa pertama yang ia lakukan. Beberapa waktu sebelumnya, Fathima adalah perempuan pemberani yang berada di barisan paling depan saat ribuam Muslimah Beit Hanoun berupaya membuka blokade pasukan Israel saat mengepung masjid An Nashr tempat perlindungan mujahidin Al-Qassam. Fathiya mengatakan, “Ketika itu, kami beberapa kali menasihatinya untuk tidak terlalu mendekat ke pasukan Israel, karena ia sangat semangat sekali.” Pada masa sebelumnya, Fathimah bahkan pernah menjadi bagian dari rantai manusia untuk melindungi sebuah rumah yang akan dibuldoser oleh Israel.

Fathimah Najjar, adalah perempuan paling tua usianya di antara para pelaku bom syahid selama ini. Dalam daftar pelaku bom syahid perempuan, Fathimah adalah perempuan kesembilan yang melakukan proyek bom syahid terhadap penjajah Israel. Sebelum Fathimah, seorang perempuan Palestina bernama Mirfat Masud, juga berasal dari Jabaliya, melakukan aksi bom syahid hingga melukai sejumlah tentara Israel di Beit Hanoun. (na-str/iol)

Sumber : swaramuslim.net

Halaman Berikutnya »