Hj. Veronika Agustina : Memilih Islam Sampai Mati
Rasanya amat sulit mencari musikus wanita yang sanggup bertahan lama pada profesinya. Sekadar untuk menyebut nama-nama mereka, antara lain Lilis Suryani, Titi Noor, dan Henni Purwonegoro. Sedangkan, Hajjah Veronika termasuk yang sampai saat ini tetap setia pada profesinya. Selain sebagai vokalis, ia juga memimpin Soneta Yunior yang dibentuknya Juni 1989.
Debutnya di dunia musik diawali ketika ia menggabungkan diri bersama The Beach Girl dari tahun 1968 sampai 1973. Kesibukan rumah tangga membuat ia vakum cukup lama dari dunia musik. Tetapi toh, jiwa seninya tidak dapat dikekang. Pada 1978, bersama beberapa kawan lamanya, ia memproklamirkan berdirinya Soneta Girl yang seluruh personelnya terdiri dari kaum Hawa. Sayang, setelah menelurkan 8 album, group ini bubar tahun 1986, tidak lama setelah perkawinannya bubar bersama Super Star Dangdut, Rhoma Irama.
Ikhwal perpisahan saya dengan Rhoma, beberapa media massa ibu kota ramai membicarakannya. Pro dan Kontra mewarnai perceraian saya di tahun 1985. Tetapi buat saya banyak sekali hikmah yang saya ambil. Terus terang saya kini baru mengenal, siapa sesungguhnya makhluk yang bernama laki-laki.
Dulu sewaktu masih bersama mantan suami, saya tidak pernah berpikir tentang laki-laki. Pokoknya, suami yang di samping saya, dialah laki-laki yang paling setia. Ternyata anggapan saya keliru.
Setelah perceraian itu, saya baru mengetahui bahwa penyelewengan itu pasti ada pada setiap laki-laki. Bukan laki-laki, jika tidak ada penyelewengan dalam rumah tangganya. Kesimpulan saya memang ekstrim. Tetapi itu bukan berarti saya antipoligami. Selama si wanita mau dimadu dan sisuami mampu berbuat adil, bagi saya, no problem. Tidak ada masalah. Tapi saya sendiri tidak mau dimadu.
Menurut saya, laki-laki yang mengambil madu (maksudnya poligami, peny.) harus mampu menegakkan keadilan. Sebab kalau tidak, akan membuat keributan di antara istri-istrinya.
Sangsi Mengenai Trinitas
Saya mempunyai nama Islam, Masyitoh masuk Islam tahun 1971 bersamaan dengan pengesahan akad nikah saya dengan Rhoma Irama. Tetapi sebetulnya, 3 tahun sebelum nikah, saya sudah menyatakan-meskipun baru di hati keluar dari agama saya yang lama : Katolik.
Saya berdarah Manado-Banten memang sudah bergaul dengan Islam sejak masih SD. Waktu itu, saya sering ikut ke pangajian anak-anak bersama anak pembatu di rumah nenek saya. Sejak itu saya mulai menyangsikan ajaran Trinitas yang selama ini saya dapatkan di gereja.
Kebetulan, buyut saya (nenek dari ibu), Nyai Isah namanya, berasal dari daerah Tigaraksa, Banten, yang memang fanatik Islam. Dengan buyut saya itulah saya sering bertukar pikiran tentang agama. Sehingga, pada suatu hari buyut saya berkata, “Kamu dan keluarga kamu, nanti akan masuk Islam”.
Alhamdulillah, ucapan Buyut saya terkabul. Sayalah orang pertama di keluarga yang memeluk Islam. Setelah ayah saya yang masih Katolik wafat tahun 1975, berturut-turut ibu dan adik-adik saya mengikuti jejak saya ke jalan yang diridhai Allah, yaitu Islam. Bahkan, saya berkesempatan menunaikan ibadah haji tahun 1983.
Sejak itu saya bertambah yakin dengan Islam yang saya anut. Insya Allah, saya akan tetap memilih Islam sampai mati. Sebagai bukti, saya bertekad akan mewariskan Islam kepada anak-anak saya. Dua dari 3 anak saya dari perkawinan dengan Rhoma, kini bermukim di Pondok Pensantren Zainul Hasan Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur. Kini, saya hidup berbagahagia bersama suami saya R.M. Indarto Suryokusumo yang sehari-hari akrab dipanggil Dicky.(Albaz)
Sumber : swaramuslim.net
Hj. Lenny Umar (Oey Lan Nio) : Mualaf yang Kini Mubaligah Kondang
KEBERADAAN mualaf (orang yang baru masuk Islam) sering luput dari perhatian kaum Muslimin, padahal mualaf mengalami masalah baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, menurut mubaligah Hj. Lenny Umar mereka memerlukan “sentuhan” yang sangat arif dari kaum Muslim sendiri. Lenny Umar yang dulunya mualaf ini juga mengkhawatirkan jumlah mubaligah (dai wanita) yang masih kurang.
MEMERHATIKAN raut wajahnya, terutama bagian matanya, orang pasti bisa menebak asal Hj. Lenny Umar. Ya, Hj. Lenny Umar masih ada darah keturunan (Tionghoa) meski dibesarkan di daerah Pangalengan Kab. Bandung, malah saat ini sudah memiliki pesantren.
Sebagai seorang yang masuk Islam pada tahun 1965 dan kini aktif di bidang dakwah, Lenny Umar merasakan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap mualaf termasuk dari mualaf keturunan (Tionghoa).
“Kita harus terus mengingatkan kaum muslimin untuk ikut memperhatikan kondisi mualaf termasuk dari warga keturunan. Ayat Alquran sudah dengan jelas menyatakan bahwa zakat itu diperuntukkan bagi delapan asnaf yang salah satunya adalah mualaf,” katanya.
Kondisi mualaf warga keturunan sendiri, lanjut Lenny, cukup beragam dari yang keluarganya mampu secara ekonomi sampai kelas menengah bawah. “Tentu saja yang harus kita fokuskan adalah mualaf dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Apalagi tak sedikit mualaf dari warga keturunan yang akhirnya terusir dari keluarganya setelah memilih jalan Islam. Mereka masih lemah akidah, lemah ekonomi, dan terputus hubungan dengan keluarganya,” ujar wanita yang lahir pada 26 Desember 1945.
Hanya, Lenny mewanti-wanti agar pemberian bantuan termasuk kepada kalangan mualaf jangan sampai membuat mereka terlena dan selalu bergantung pada pemberian. “Saya sendiri merasa khawatir apabila kita membantu malah membuat mualaf selalu tergantung dengan kita. Caranya harus baik-baik dengan memberikan kail, bukan ikannya apalagi warga keturunan dikenal memiliki sense of business yang baik,” katanya.
Lenny mengimbau agar kaum Muslimin menjadi orang tua asuh para mualaf yang diusir keluarganya. “Organisasi kaum Muslim warga keturunan seperti Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) di Bandung juga bisa berperan membantu mualaf. Jangan sampai mualaf yang terusir dari keluarganya berjuang sendiri seakan-akan tidak ada umat Islam yang peduli kepadanya,” timpal ibu dari enam anak ini.
Saat ini YHKO Cabang Bandung atau Masjid Lautze II, Jalan Tamblong, sedang merencanakan pembangunan pusat dakwah. Mereka bersyukur kini sudah ada suntikan bantuan dari pemerintah dan dermawan. “Menurut saya lebih baik YHKO Cabang Bandung merintis pusat pendidikan bagi mualaf, khususnya kaum keturunan apalagi jumlah dai kalangan keturunan juga amat sedikit. Dengan adanya mesjid, lembaga pendidikan, dan asrama YHKO Cabang Bandung bisa menjawab kebutuhan masyarakat khususnya Muslim keturunan,” ujarnya.
Keprihatinan lain dari Hj. Lenny Umar berkaitan dengan masih kurangnya jumlah mubaligah, padahal jumlah kaum perempuan melebihi dari kaum lelaki hingga perlu mendapat pembinaan, termasuk rohaninya. “Kaum wanita masih mengalami hambatan yang cukup kompleks misalnya kalau untuk menjadi mubaligah berarti berada di luar rumah, perlu izin dari sang suami atau keluarganya. Ini kan tidak mudah,” jelas istri dari Nur Iman Hasan.
Belum lagi kalau wanita sudah memiliki anak, hal itu akan bertambah sulit karena konsentrasi lebih banyak dalam mendidik anak-anaknya, sedangkan pendidikan masyarakat terpaksa ditinggalkan. “Kalau suami atau keluarga tidak memahami keinginan istri untuk ikut berkiprah di masyarakat, nggak akan bisa. Meski kita sadari jumlah santriwati di pesantren tak kalah dengan santri, santriwati yang memilih jalan dakwah setelah berkeluarga jumlahnya relatif sedikit,” ujarnya.
Namun, Lenny Umar yang setiap pukul 15.00 WIB mengisi ceramah di Radio Mara FM mengakui kiprah wanita di bidang dakwah bukan berarti tidak ada sama sekali. “Sebatas mengajar di sekolah atau madrasah maupun mengajar ngaji tingkat RT maupun RW tetap dilakukan oleh kaum ibu. Kalau wanita yang kiprah dakwahnya sampai ke daerah-daerah atau tingkat nasional memang masih sedikit,” katanya.
DARI enam anak yang dianugerahkan Allah, hingga kini Lenny belum melihat bakat mereka untuk menjadi seorang mubalig atau mubaligah. “Mungkin anak-anak saya juga tidak berbakat menjadi seorang dai, namun lebih berbakat menjadi seorang penulis. Sebagai orang tua, kami mengarahkan anak-anak agar memiliki akidah yang kuat, ihlas, dan berahlak baik,” sambungnya.
Lenny melihat perlunya pencetakan mubalig, terutama mubaligah, apalagi mereka yang saat ini berkiprah sebagai penceramah lambat laun usianya semakin lanjut. “Untuk menjadi seorang penceramah termasuk mubaligah memang tak mudah, tapi harus dilakukan dan jangan ditunda lagi. Seorang mubaligah mesti banyak baca dan memiliki semangat belajar yang tak pernah henti,” kata Lenny yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Unpad.
Alumni Fakultas Tarbiyah Unisba ini mengaku sedang mengikuti kuliah di Program Pascasarjana (S-2) Unisba dengan mengambil Program Manajemen Pendidikan Islam. “Saya kan diberikan kepercayaan untuk mengelola pesantren di Pangalengan hingga perlu memiliki ilmu-ilmu cara mengelola lembaga pendidikan. Mengelola pesantren perlu metode tersendiri karena lebih banyak menyantuni, apalagi sebagian santri dari kalangan tak mampu yang saya jadikan anak asuh,” ungkapnya.
Jumlah santri yang diasuh Lenny sebanyak 360 orang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Pangalengan dan sekitarnya. Dari 360 santri hanya 40 santri yang mukim atau tinggal di asrama milik pesantren. “Kami masih kekurangan tempat baik untuk kelas maupun asrama, hingga hanya 40 santri yang bisa tertampung, sedangkan lainnya termasuk santri kalong (tidak tinggal di asrama pesantren, red),” ujarnya.
Pesantren yang didirikan pada tahun 1992, menurut Lenny, lebih menekankan pada penguatan akidah, keikhlasan, akhlakul-karimah, peduli kepada masyarakat, dan kemandirian yang merupakan ciri khas pesantren. “Pengajaran kitab-kitab kuning tetap kita berikan sebab pesantren memang identik dengan kitab kuning,” katanya.
Mengenai pemilihan daerah Pangalengan sebagai tempat tinggal sekaligus mendirikan pesantren, Lenny beralasan kakeknya punya andil ketika memiliki konsesi pengelolaan hutan di daerah Pangalengan. “Kakek juga termasuk orang yang ikut menangani Situ Cileunca yang bisa menjadi daerah wisata sekaligus pusat pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” katanya.
DALAM pembicaraan Lenny juga sempat menyinggung mengenai hari kasih sayang atau valentine’s day. Secara terus terang ia menegaskan ajaran Islam tidak mengenal adanya hari kasih sayang yang merupakan budaya Barat terutama dari Nasrani. “Nabi Muhammad dengan jelas mengatakan umat Islam yang meniru budaya lain, maka ia termasuk di dalam kaum tersebut. Umat Islam khususnya kaum muda harus memahami asal usul valentine’s day dan ada apa di balik hal itu,” katanya.
Di mata Lenny hari kasih sayang itu lebih cenderung kepada upaya mengumbar nafsu syahwat dengan berpasang-pasangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. “Lebih banyak ke arah pergaulan bebas dan seks bebas di antara remaja. Ini kan sudah mengkhawatirkan, hingga orang tua perlu mengingatkan sekaligus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya,” jelasnya.
Maraknya hari valentine, lanjut Lenny, lebih disebabkan muatan-muatan bisnis yang mendompleng pada hari itu. Hingga akhirnya digembar-gemborkan baik oleh pengusaha maupun media massa. “Valentine’s day terkait erat dengan soal bisnis yang bisa diraih dengan adanya perayaan tersebut. Umat Islam digiring ke arah hal-hal negatif, baik perilakunya maupun segi materinya untuk ikut membeli barang-barang yang berkaitan dengan hari kasih sayang,” ungkapnya.
Ajaran Islam secara jelas memberikan aturan dan batasan dalam pergaulan antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Batasan dan aturan pergaulan itu bukan bermaksud untuk membatasi ruang gerak kaum remaja, namun lebih untuk kebaikan remaja itu sendiri. “Ajaran Islam lebih cenderung ke pencegahan agar sebuah perbuatan maksiat tidak dikerjakan termasuk dalam hal pergaulan. Makanya, dalam ayat Alquran dikatakan janganlah kau mendekati zina yang bukan berarti berzina boleh melainkan mendekati saja tidak boleh. Upaya mendekati zina bisa berupa berduaan di tempat sepi, bergandengan tangan, saling menatap, berciuman, sampai saling meraba,” katanya.
Lenny Umar melihat pergaulan remaja pada saat ini jauh lebih berani daripada tahun-tahun sebelumnya hingga mereka tidak risi lagi bergandengan tangan, malah berciuman di tengah keramaian. “Tentu saja pergaulan seperti itu mengkhawatirkan kita semua sebagai orang tua. Kalau orang tua termasuk kalangan dai tidak mengingatkan kaum remaja, lantas siapa lagi?” ujarnya retoris. (Sar/”PR”)***
Sumber : swaramuslim.net
Hj. Irene Handono Mendapat Hidayah di Biara
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, dimana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam.
Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik.
Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:
Mendapat hidayah di Biara
Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja.
Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.
Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan. Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja.
Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku.
Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah. Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu.
Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakaku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati.
Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan. Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Instituit Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya.
Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi.
Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam. Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.
Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina.
Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang-panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas.
Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.
Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakana, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.”
“Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur.
Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan.
“Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam.
Dosen menjawab, “Tidak bisa!”
Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh.
Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti.
“Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur.
Aku katakana, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana?
“Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.
Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab.
“Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu.
“Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi.
“Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan.
“Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran.
Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia.
Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas. Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?.
“Sebetulnya saya tahu,” ucapku.
“Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka.
“Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.”
“Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti.
Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”
Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja.
Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi.
Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu.
Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah.
Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam.
Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah. Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat.
Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya.
Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai!
Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya.
Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama. Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua.
Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu.
Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?”
“Siap!” jawabku.
“Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau.
“Pernikahan saya!” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat.
“Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi.
“Islam” jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat mereka telah menjadi muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat.
Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia piker ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.
Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat. Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami.
Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia. Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang.
Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu.
Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit kesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam.
Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalh agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa.
Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.
Sumber : swaramuslim.net