Mutiara Kusumawati


Hj. Lenny Umar (Oey Lan Nio) : Mualaf yang Kini Mubaligah Kondang

Ditulis dalam Kisah oleh mutiarakusumawati pada Maret 7, 2008

KEBERADAAN mualaf (orang yang baru masuk Islam) sering luput dari perhatian kaum Muslimin, padahal mualaf mengalami masalah baik lahir maupun batin. Oleh karena itu, menurut mubaligah Hj. Lenny Umar mereka memerlukan “sentuhan” yang sangat arif dari kaum Muslim sendiri. Lenny Umar yang dulunya mualaf ini juga mengkhawatirkan jumlah mubaligah (dai wanita) yang masih kurang.

MEMERHATIKAN raut wajahnya, terutama bagian matanya, orang pasti bisa menebak asal Hj. Lenny Umar. Ya, Hj. Lenny Umar masih ada darah keturunan (Tionghoa) meski dibesarkan di daerah Pangalengan Kab. Bandung, malah saat ini sudah memiliki pesantren.

Sebagai seorang yang masuk Islam pada tahun 1965 dan kini aktif di bidang dakwah, Lenny Umar merasakan kurangnya perhatian kaum muslimin terhadap mualaf termasuk dari mualaf keturunan (Tionghoa).

“Kita harus terus mengingatkan kaum muslimin untuk ikut memperhatikan kondisi mualaf termasuk dari warga keturunan. Ayat Alquran sudah dengan jelas menyatakan bahwa zakat itu diperuntukkan bagi delapan asnaf yang salah satunya adalah mualaf,” katanya.

Kondisi mualaf warga keturunan sendiri, lanjut Lenny, cukup beragam dari yang keluarganya mampu secara ekonomi sampai kelas menengah bawah. “Tentu saja yang harus kita fokuskan adalah mualaf dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi. Apalagi tak sedikit mualaf dari warga keturunan yang akhirnya terusir dari keluarganya setelah memilih jalan Islam. Mereka masih lemah akidah, lemah ekonomi, dan terputus hubungan dengan keluarganya,” ujar wanita yang lahir pada 26 Desember 1945.

Hanya, Lenny mewanti-wanti agar pemberian bantuan termasuk kepada kalangan mualaf jangan sampai membuat mereka terlena dan selalu bergantung pada pemberian. “Saya sendiri merasa khawatir apabila kita membantu malah membuat mualaf selalu tergantung dengan kita. Caranya harus baik-baik dengan memberikan kail, bukan ikannya apalagi warga keturunan dikenal memiliki sense of business yang baik,” katanya.

Lenny mengimbau agar kaum Muslimin menjadi orang tua asuh para mualaf yang diusir keluarganya. “Organisasi kaum Muslim warga keturunan seperti Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) di Bandung juga bisa berperan membantu mualaf. Jangan sampai mualaf yang terusir dari keluarganya berjuang sendiri seakan-akan tidak ada umat Islam yang peduli kepadanya,” timpal ibu dari enam anak ini.

Saat ini YHKO Cabang Bandung atau Masjid Lautze II, Jalan Tamblong, sedang merencanakan pembangunan pusat dakwah. Mereka bersyukur kini sudah ada suntikan bantuan dari pemerintah dan dermawan. “Menurut saya lebih baik YHKO Cabang Bandung merintis pusat pendidikan bagi mualaf, khususnya kaum keturunan apalagi jumlah dai kalangan keturunan juga amat sedikit. Dengan adanya mesjid, lembaga pendidikan, dan asrama YHKO Cabang Bandung bisa menjawab kebutuhan masyarakat khususnya Muslim keturunan,” ujarnya.
Keprihatinan lain dari Hj. Lenny Umar berkaitan dengan masih kurangnya jumlah mubaligah, padahal jumlah kaum perempuan melebihi dari kaum lelaki hingga perlu mendapat pembinaan, termasuk rohaninya. “Kaum wanita masih mengalami hambatan yang cukup kompleks misalnya kalau untuk menjadi mubaligah berarti berada di luar rumah, perlu izin dari sang suami atau keluarganya. Ini kan tidak mudah,” jelas istri dari Nur Iman Hasan.

Belum lagi kalau wanita sudah memiliki anak, hal itu akan bertambah sulit karena konsentrasi lebih banyak dalam mendidik anak-anaknya, sedangkan pendidikan masyarakat terpaksa ditinggalkan. “Kalau suami atau keluarga tidak memahami keinginan istri untuk ikut berkiprah di masyarakat, nggak akan bisa. Meski kita sadari jumlah santriwati di pesantren tak kalah dengan santri, santriwati yang memilih jalan dakwah setelah berkeluarga jumlahnya relatif sedikit,” ujarnya.

Namun, Lenny Umar yang setiap pukul 15.00 WIB mengisi ceramah di Radio Mara FM mengakui kiprah wanita di bidang dakwah bukan berarti tidak ada sama sekali. “Sebatas mengajar di sekolah atau madrasah maupun mengajar ngaji tingkat RT maupun RW tetap dilakukan oleh kaum ibu. Kalau wanita yang kiprah dakwahnya sampai ke daerah-daerah atau tingkat nasional memang masih sedikit,” katanya.

DARI enam anak yang dianugerahkan Allah, hingga kini Lenny belum melihat bakat mereka untuk menjadi seorang mubalig atau mubaligah. “Mungkin anak-anak saya juga tidak berbakat menjadi seorang dai, namun lebih berbakat menjadi seorang penulis. Sebagai orang tua, kami mengarahkan anak-anak agar memiliki akidah yang kuat, ihlas, dan berahlak baik,” sambungnya.

Lenny melihat perlunya pencetakan mubalig, terutama mubaligah, apalagi mereka yang saat ini berkiprah sebagai penceramah lambat laun usianya semakin lanjut. “Untuk menjadi seorang penceramah termasuk mubaligah memang tak mudah, tapi harus dilakukan dan jangan ditunda lagi. Seorang mubaligah mesti banyak baca dan memiliki semangat belajar yang tak pernah henti,” kata Lenny yang sempat mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Unpad.

Alumni Fakultas Tarbiyah Unisba ini mengaku sedang mengikuti kuliah di Program Pascasarjana (S-2) Unisba dengan mengambil Program Manajemen Pendidikan Islam. “Saya kan diberikan kepercayaan untuk mengelola pesantren di Pangalengan hingga perlu memiliki ilmu-ilmu cara mengelola lembaga pendidikan. Mengelola pesantren perlu metode tersendiri karena lebih banyak menyantuni, apalagi sebagian santri dari kalangan tak mampu yang saya jadikan anak asuh,” ungkapnya.

Jumlah santri yang diasuh Lenny sebanyak 360 orang dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Pangalengan dan sekitarnya. Dari 360 santri hanya 40 santri yang mukim atau tinggal di asrama milik pesantren. “Kami masih kekurangan tempat baik untuk kelas maupun asrama, hingga hanya 40 santri yang bisa tertampung, sedangkan lainnya termasuk santri kalong (tidak tinggal di asrama pesantren, red),” ujarnya.

Pesantren yang didirikan pada tahun 1992, menurut Lenny, lebih menekankan pada penguatan akidah, keikhlasan, akhlakul-karimah, peduli kepada masyarakat, dan kemandirian yang merupakan ciri khas pesantren. “Pengajaran kitab-kitab kuning tetap kita berikan sebab pesantren memang identik dengan kitab kuning,” katanya.

Mengenai pemilihan daerah Pangalengan sebagai tempat tinggal sekaligus mendirikan pesantren, Lenny beralasan kakeknya punya andil ketika memiliki konsesi pengelolaan hutan di daerah Pangalengan. “Kakek juga termasuk orang yang ikut menangani Situ Cileunca yang bisa menjadi daerah wisata sekaligus pusat pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” katanya.

DALAM pembicaraan Lenny juga sempat menyinggung mengenai hari kasih sayang atau valentine’s day. Secara terus terang ia menegaskan ajaran Islam tidak mengenal adanya hari kasih sayang yang merupakan budaya Barat terutama dari Nasrani. “Nabi Muhammad dengan jelas mengatakan umat Islam yang meniru budaya lain, maka ia termasuk di dalam kaum tersebut. Umat Islam khususnya kaum muda harus memahami asal usul valentine’s day dan ada apa di balik hal itu,” katanya.

Di mata Lenny hari kasih sayang itu lebih cenderung kepada upaya mengumbar nafsu syahwat dengan berpasang-pasangan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. “Lebih banyak ke arah pergaulan bebas dan seks bebas di antara remaja. Ini kan sudah mengkhawatirkan, hingga orang tua perlu mengingatkan sekaligus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya,” jelasnya.

Maraknya hari valentine, lanjut Lenny, lebih disebabkan muatan-muatan bisnis yang mendompleng pada hari itu. Hingga akhirnya digembar-gemborkan baik oleh pengusaha maupun media massa. “Valentine’s day terkait erat dengan soal bisnis yang bisa diraih dengan adanya perayaan tersebut. Umat Islam digiring ke arah hal-hal negatif, baik perilakunya maupun segi materinya untuk ikut membeli barang-barang yang berkaitan dengan hari kasih sayang,” ungkapnya.

Ajaran Islam secara jelas memberikan aturan dan batasan dalam pergaulan antara pria dan wanita yang bukan muhrim. Batasan dan aturan pergaulan itu bukan bermaksud untuk membatasi ruang gerak kaum remaja, namun lebih untuk kebaikan remaja itu sendiri. “Ajaran Islam lebih cenderung ke pencegahan agar sebuah perbuatan maksiat tidak dikerjakan termasuk dalam hal pergaulan. Makanya, dalam ayat Alquran dikatakan janganlah kau mendekati zina yang bukan berarti berzina boleh melainkan mendekati saja tidak boleh. Upaya mendekati zina bisa berupa berduaan di tempat sepi, bergandengan tangan, saling menatap, berciuman, sampai saling meraba,” katanya.

Lenny Umar melihat pergaulan remaja pada saat ini jauh lebih berani daripada tahun-tahun sebelumnya hingga mereka tidak risi lagi bergandengan tangan, malah berciuman di tengah keramaian. “Tentu saja pergaulan seperti itu mengkhawatirkan kita semua sebagai orang tua. Kalau orang tua termasuk kalangan dai tidak mengingatkan kaum remaja, lantas siapa lagi?” ujarnya retoris. (Sar/”PR”)***
Sumber : swaramuslim.net

Tinggalkan Balasan